Mag-log in“Aku tahu Collins Group tidak mengatakan yang sebenarnya.”Pesan itu muncul di layar ponsel Violetta.Tangannya yang semula hendak membalik halaman mendadak terhenti.Violetta masih berada di ruangannya. Beberapa dokumen dari divisi keuangan terbuka di atas meja, tetapi perhatiannya sudah sepenuhnya tertuju pada ponsel di samping tangannya.Dia meraih ponsel tersebut dan membaca pesan dari Jefferson sekali lagi.Jefferson: Aku tahu Collins Group tidak mengatakan yang sebenarnya.Tatapan Violetta berubah.Jefferson tidak mungkin mengirim pesan seperti itu tanpa alasan.Violetta meletakkan dokumen yang sejak tadi dibacanya, lalu mengetik balasan.Violetta: Apa maksudmu?Pesan berikutnya masuk.Jefferson: Aku ingin bertemu.Violetta mengerutkan kening.Violetta: Di mana?Jefferson: Kamu yang tentukan.Violetta bersandar di kursi
“Sepertinya kalian sedang membicarakan Collins Group.”Sebastian berdiri di ambang pintu. Jefferson menatap pamannya.“Ada apa, Paman?”Sebastian melangkah masuk. Katherine segera berdiri.“Paman Sebastian.”Sebastian mengangguk singkat.“Duduk saja.”Katherine kembali duduk. Helena yang sejak tadi berdiri di sisi ruangan menatap Sebastian.“Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?”“Ada.”Sebastian mengalihkan pandangan kepada Jefferson.“Aku punya informasi tentang Collins Group.”Jefferson memperhatikannya.Sebastian adalah adik kandung ayah Jefferson. Setelah kakaknya meninggal, dia sempat mengira akan mengambil alih posisi pemimpin Zelda Group. Akan tetapi, keputusan sang kakek justru jatuh kepada Jefferson.Sejak saat itu, Sebastian tetap berada di perusahaan, tetapi hubungan mereka tidak pernah benar-benar dekat. Di balik hubungan kel
“Kenapa wanita suka menyanyikan lagu-lagu perpisahan?”Rinto yang sedang berdiri di depan meja kerja Jefferson langsung menjawab.“Mungkin karena sedang patah hati.”Jefferson menghentikan tangannya di atas dokumen.“Patah hati?”“Atau masih menyimpan rasa sakit karena perpisahan.”Jefferson menatap Rinto beberapa detik.“Jadi, kalau seorang wanita menyanyikan lagu tentang perpisahan, dia pasti pernah mengalami perpisahan?”“Belum tentu.”Alis Jefferson terangkat.“Maksudmu?”“Bisa saja dia cuma suka lagunya.”Jefferson terdiam.“Tidak ada alasan lain?”Rinto berpikir sejenak.“Ada.”“Apa?”“Bisa jadi lagunya enak.”Jefferson menatapnya datar.Rinto mulai merasa jawabannya mungkin tidak sesuai harapan.“Tapi kalau lagunya tentang patah hati, mungkin memang sedang patah hati.”Jefferson menghela napas pelan.“Barusan kamu bilang belum tentu.”“Iya.”“Sekarang kamu bilang mungkin.”“Karena memang mungkin, Tuan.”“Kalau kamu sendiri bagaimana?”“Saya?”“Kalau melihat seorang wanita menya
“Violetta, kamu sudah melihat konferensi pers Collins Group?”Andrea langsung bertanya begitu panggilan tersambung.Violetta yang baru saja membuka laptop menatap layar ponselnya.“Sudah.”“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.”Violetta tersenyum tipis.“Apa lagi?”“Kamu membeli saham Collins Group kemarin ketika harganya masih terus turun, lalu pagi ini mereka justru mengadakan konferensi pers.”“Aku tahu.”Andrea menarik napas panjang.“Justru itu yang membuatku kesal.”Sebelum Violetta menjawab, panggilan lain masuk.Nama Alexander muncul di layar.“Xander juga menelepon.”“Angkat saja,” kata Andrea. “Sekalian kita bicara bertiga.”Violetta menerima panggilan Alexander dan menggabungkannya.“Pagi,” sapa Alexander.“Pagi,” jawab Violetta.Andrea langsung menyela.“Xander, kamu sudah lihat?”
“Violetta!”Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Bastian menerobos masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang.Abraham langsung berdiri dari kursinya.Violetta tetap berada di belakang meja.“Keluar kalau kamu datang hanya untuk membuat keributan.”Bastian mengabaikannya. Pandangannya langsung tertuju pada Abraham.Sejak kemarin pagi, amarahnya belum mereda setelah Violetta mencabut jabatannya sebagai Direktur Operasional. Anton bahkan harus turun tangan semalaman untuk menenangkan emosinya. Selama ini, Bastian adalah anak laki-laki yang diharapkan menjadi penerus Hirawan Kontraktor. Pemecatan itu bukan sekadar kehilangan jabatan. Bagi Bastian, itu seperti kehilangan tempat yang selama ini dianggap sebagai haknya sendiri. Pagi ini, ia datang dengan tujuan berbeda. Jika tidak bisa kembali menduduki jabatan tersebut, setidaknya ia ingin memastikan orang yang menggantikannya tidak bertahan lam
“Lupakan saja.” Violetta mengerutkan kening. “Apa?” Jefferson menatapnya beberapa detik. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk membicarakan kembali batasan dalam kontrak perjanjian pernikahan mereka. Namun, melihat Violetta yang terlihat biasa saja, ia mengurungkan niat tersebut. ‘Tidak perlu sekarang.’ Ia mengalihkan pandangan ke layar laptop. “Bukan itu yang ingin kubicarakan.” Violetta menatapnya curiga. “Lalu apa?” Jefferson membuka laptop kembali dan memutar layar sedikit ke arahnya. “Ini.” Sebuah judul berita terpampang jelas di layar. Collins Group Dijadwalkan Menggelar Konferensi Pers Besok Pukul 07.30. Violetta membacanya beberapa detik. “Masalah konferensi pers Collins Group?” “Iya. Besok pagi pukul tujuh lewat tiga puluh menit.”







